Berhenti Merokok Cukup dengan Komputer
Berhenti dari kebiasaan merokok bukan perkara mudah, bahkan banyak orang memilih menyerah di tengah jalan. Namun tak ada salahnya para pecandu rokok yang ingin stop melirik program berhenti merokok di komputer dan internet karena dipandang cukup efektif.
"Dengan makin tingginya ongkos kesehatan, diperlukan program kesehatan murah dan efektif. Kami menemukan kalau program berbasis web dan komputer adalah alternatif berharga," tukas Joel Moskowitz, direktur Center for Family and Community Health, University of California Berkeley.
Di Indonesia barangkali program berhenti merokok dengan panduan yang diberikan via internet belum umum. Namun di mancanegara, sudah banyak masyarakat memanfaatkannya.
Para periset menganalisis 22 uji coba melibatkan sekitar 30.000 partisipan. Studi ini membandingkan efektivitas program berhenti merokok berbasis komputer atau web dengan metode biasa yang dilakukan sendiri.
Dikutip dari Forbes, Rabu (22/5/2009), persentase perokok yang berhasil melepaskan diri dari rokok mencapai 9,9 persen berkat program berbasis web atau komputer. Angka ini lebih tinggi 1,7 kali ketimbang persentase mereka yang coba berhenti merokok dengan cara sendiri.
"Program berhenti merokok via komputer dan internet kurang direkomendasikan karena dinilai tidak konsisten. Namun review kami menemukan bahwa cara ini bisa diandalkan," demikian laporan studi yang dipublikasikan di media Archives of Internal Medicine.
Hasil Penelitian : SMS Hambat Perkembangan Remaja
Kaum muda dikenal sebagai rajanya mengirim SMS. Namun jika dilakukan dengan terlalu berlebihan alias ekstrim, kebiasaan SMS dapat membuat mereka ketiban berbagai masalah yang cukup serius.
Itulah kesimpulan yang tertera dalam penelitian oleh psikolog dari Massachussets Institue of Technology, Sherry Turkle. Studi ini menyebutkan kalau remaja yang terlalu banyak berkirim SMS dapat mengalami gangguan tidur, kecemasan dan juga terhambat perkembangan psikisnya.
Dikutip dari ABC, Jumat (29/5/2009), Turkle memaparkan kalau SMS membuat proses perpisahan antara orang tua dan remaja untuk menjadi orang dewasa yang sehat jadi terganggu. Sebab dengan SMS, anak dan orang tua dapat terus terhubung secara berlebihan.
"Di antara tugas yang harus dilakukan remaja adalah untuk berpisah dengan orang tua dan menemukan ketenangan serta kedamaian untuk menjadi orang yang mereka inginkan. Namun SMS mengganggu tugas tersebut," klaim Turkle.
Sementara gangguan tidur atau stres dapat terjadi karena remaja sering memaksa diri untuk membalas SMS walau hari sudah larut malam.
Kaum muda dikenal sebagai rajanya mengirim SMS. Namun jika dilakukan dengan terlalu berlebihan alias ekstrim, kebiasaan SMS dapat membuat mereka ketiban berbagai masalah yang cukup serius.
Itulah kesimpulan yang tertera dalam penelitian oleh psikolog dari Massachussets Institue of Technology, Sherry Turkle. Studi ini menyebutkan kalau remaja yang terlalu banyak berkirim SMS dapat mengalami gangguan tidur, kecemasan dan juga terhambat perkembangan psikisnya.
Dikutip dari ABC, Jumat (29/5/2009), Turkle memaparkan kalau SMS membuat proses perpisahan antara orang tua dan remaja untuk menjadi orang dewasa yang sehat jadi terganggu. Sebab dengan SMS, anak dan orang tua dapat terus terhubung secara berlebihan.
"Di antara tugas yang harus dilakukan remaja adalah untuk berpisah dengan orang tua dan menemukan ketenangan serta kedamaian untuk menjadi orang yang mereka inginkan. Namun SMS mengganggu tugas tersebut," klaim Turkle.
Sementara gangguan tidur atau stres dapat terjadi karena remaja sering memaksa diri untuk membalas SMS walau hari sudah larut malam.
Langganan:
Postingan (Atom)