Zakat Fitrah

ALHAMDULILLAH, kita masih diberi kesempatan dan kekuatan oleh Allah sehingga bisa merasakan saum sampai pada hari kedua puluh. Semoga amalan-amalan di sepuluh hari terakhir Ramadan dapat dipacu, apalagi Nabi Muhammad mengisyaratkan datangnya Lailatulqadar.

Puncak ibadah adalah saum Ramadan. Dalam salah satu hadis Rasulullah saw. menyatakan, "Qod ja-a kum syahrun adzim, syahru mubarakun (kini telah datang bulan agung, bulan yang diberkahi)." Salah satu ibadah yang menyertai saum Ramadan adalah membayar zakat fitrah. Di antara dalil yang menganjurkan untuk menunaikan zakat fitrah adalah firman Allah SWT, "Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia salat (Q.S. Al-A`la: 14-15)."

Hadis sahih yang diriwayatkan Ibnu Abbas, "Rasulullah saw. telah mewajibkan zakat fitrah bagi orang merdeka dan hamba sahaya, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa dari kaum Muslimin. Beliau memerintahkan agar (zakat fitrah tersebut) ditunaikan sebelum orang-orang melakukan salat Id (Hari Raya), setelah salat subuh." (Muttafaq Alaih)

Setiap Muslim wajib membayar zakat fitrah untuk dirinya dan orang yang dalam tanggungannya sebanyak satu sha` (sekitar 2,5 kg) dari bahan makanan yang berlaku umum di daerahnya. Zakat tersebut wajib baginya jika masih memiliki sisa makanan untuk diri dan keluarganya, selama sehari semalam. Zakat tersebut lebih diutamakan dari sesuatu yang lebih bermanfaat bagi fakir miskin.

Adapun waktu pengeluarannya yang paling utama adalah sebelum salat Id setelah salat subuh, dan tidak boleh mengakhirkan mengeluaran zakat fitrah setelah Hari Raya. Dari Ibnu Abbas r.a., "Rasulullah saw. telah mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci orang yang bersaum dari kesia-siaan dan ucapan kotor, dan sebagai pemberian makan kepada fakir miskin. Barang siapa yang mengeluarkannya sebelum salat Id, maka zakatnya diterima, dan barang siapa yang membayarkannya setelah salat Id, maka ia adalah sedekah biasa." (H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah, diriwayatkan pula Al Hakim, hadis sahih menurut kriteria Imam Al-Bukhari.)

Di antara hikmah disyariatkannya zakat fitrah adalah, pertama, zakat fitrah merupakan zakat diri karena Allah memberikan umur panjang baginya sehingga ia bertahan dengan nikmat-Nya. Kedua, zakat fitrah merupakan bentuk pertolongan kepada umat Islam, baik kaya maupun miskin, sehingga mereka dapat berkonsentrasi penuh untuk beribadah kepada Allah SWT, dan bersukacita dengan segala anugerah nikmat-Nya. Ketiga, hikmah paling agung adalah tanda syukur orang yang saum kepada Allah atas nikmat ibadah saum (lihat Al Irsyaad Ila Ma`rifatil Ahkaam, oleh Syaikh Abd. Rahman bin Nashir As Sa`di halaman 37). Keempat, pembersih bagi yang melakukannya dari kesia-siaan dan perkataan buruk, serta sebagai salah satu sarana pemberian makan kepada fakir miskin.

Kebahagiaan dan kegembiraan kaum Mukminin di dunia adalah karena Tuhannya, yaitu apabila mereka berhasil menyempurnakan ibadahnya dan memperoleh pahala amalnya dengan kepercayaan terhadap janji-Nya. "Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (Q.S. Yunus: 58)

Sebagian orang bijak berujar, "Tiada seorang pun yang bergembira dengan selain Allah, kecuali karena kelalaiannya terhadap Allah, sebab orang yang lalai selalu bergembira dengan permainan dan hawa nafsunya, sedangkan orang yang berakal merasa senang dengan Tuhannya." Ketika Nabi saw. tiba di Madinah, kaum Ansar memiliki dua hari istimewa, mereka bermain-main di dalamnya. Maka, Nabi bersabda, "Allah telah memberi ganti bagi kalian dua hari yang jauh lebih baik, (yaitu) Idulfitri dan Iduladha." (H.R. Abu Daud dan An-Nasa`i dengan Sanad Hasan)

Hadis ini menunjukkan rasa sukacita di hari raya adalah sunah dan disyariatkan. Diperkenankan memperluas hari raya tersebut secara menyeluruh, kepada segenap kerabat dengan berbagai hal yang tidak diharamkan. Pada dasarnya, kaum Mukminin mempunyai tiga hari raya, yakni hari raya yang selalu datang setiap pekan dan dua hari raya yang masing-masing datang sekali dalam setiap tahun. Adapun hari raya yang selalu datang tiap pekan adalah hari Jumat, sebagai pelengkap (penyempurna) bagi salat wajib lima kali.

Sementara itu, dua hari raya yang tidak berulang dalam waktu setahun adalah Idulfitri, sebagai pelengkap saum Ramadan yang merupakan rukun dan asas Islam keempat. Apabila kaum Muslimin merampungkan saum wajibnya, mereka berhak mendapatkan ampunan dari Allah dan terbebas dari api neraka. Ketiga, Iduladha sebagai Hari Raya Kurban adalah penyempurna ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima. Bila kaum Muslimin merampungkan ibadah hajinya, niscaya diampuni dosanya.

Inilah macam-macam hari raya kaum Muslimin di dunia, semuanya dilaksanakan saat rampungnya ketakwaan kepada Yang Maha Menguasai dan Yang Maha Pemberi di saat mereka berhasil memperoleh apa yang dijanjikan-Nya, berupa ganjaran dan pahala.

Semoga amal ibadah kita selama Ramadan menjadi kafarat (penebus) dosa-dosa dari Ramadan yang telah lalu hingga Ramadan saat ini. Semoga di hari raya ini, kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang kembali pada fitrah.***
Sabar Kunci Sukses

Siapakah yang disebut orang sabar? Yaitu orang yang ketika dihantam musibah, dengan penuh keyakinan mengatakan, "Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Kami adalah milik Allah, segala urusan kembali kepada Allah." Bagaikan tukang parkir yang merasa tidak kecewa, saat mobil yang ditungguinya diambil si pemilik. Sebab, merasa tidak memiliki hanya merasa tertitipi, maka ia ikhlas. Ikhlas menganggap semua hanyalah titipan Allah, manusia tidak punya apa pun. Manusia hanya makhluk ciptaan-Nya yang hidup sebentar dan tidak lama kemudian mati.

Manusia tidak boleh merasa memiliki semuanya, kecuali hanya tertitipi. Oleh karena itu, kalau sakit tubuh ini maka itu juga sakit milik-Nya. Allah munguji manusia dengan sakit sebagai bahan evaluasi diri untuk bertobat. Sakit bisa menjadi ladang amal silaturahmi dengan dokter, berapa pun biaya yang dikeluarkan untuk membayarnya. Biaya itu adalah rezeki dari Allah, walaupun habis harta, tetapi semuanya memang hanya titipan Allah.

Anak misalnya, ada yang memiliki kekurangan, cacat, dan sebagainya. Anak bukan milik kita, anak adalah titipan Allah. Kita tidak usah minder dengan keterbatasannya dan jangan sombong oleh kelebihannya. Semuanya hanya titipan Allah, semua ada waktunya, semua ada ajalnya. Sabar bukan pasrah, sabar bukan lemah, sabar bukan pasif, sabar adalah keterampilan seseorang merespons kejadian apa pun, dengan sikap terbaik yang disukai Allah SWT.

Sabar merupakan akhlak paling utama, yang banyak mendapat perhatian Alquran. Imam Al-Ghazali berkata, "Allah swt menyebutkan, sabar di dalam Alquran lebih dari tujuh puluh tempat." Ibnul Qoyyim mengutip perkataan Imam Ahmad, "Sabar di dalam Alquran terdapat di sekitar sembilan puluh tempat." Sabar menurut bahasa, berarti menahan dan mengekang. Kebalikan sabar adalah jaza’u (sedih dan keluh kesah).

Aspek kesabaran sangat luas, lebih luas dari apa yang selama ini dipahami orang. Imam Al-Ghazali berkata, sabar itu ada dua. Pertama bersifat badani (fisik), seperti menanggung beban dengan badan, berupa pukulan yang berat atau sakit yang kronis. Kedua al-shabru al-nafsi (kesabaran moral) dari syahwat naluri dan tuntutan hawa nafsu. Bentuk kesabaran ini (nonfisik) bermacam-macam. Jika berbentuk sabar (menahan) dari syahwat perut dan kemaluan disebut iffah. Jika di dalam musibah, secara singkat disebut sabar, kebalikannya adalah keluh kesah. Jika sabar di dalam kondisi serba berkucukupan disebut mengendalikan nafsu, kebalikannya adalah kondisi yang disebut sombong (al-bathr).

Sabar dalam peperangan dan pertempuran disebut syaja’ah (berani), kebalikannya adalah al-jubnu (pengecut). Sabar di dalam mengekang kemarahan disebut lemah lembut (al-hilmu), kebalikannya adalah tadzammur (emosional). Sabar dalam menyimpan perkataan disebut katum (penyimpan rahasia). Sedangkan sabar dari kelebihan disebut zuhud, kebalikannya adalah al-hirshu (serakah).

Kebanyakan akhlak keimanan masuk ke dalam sabar. Pada suatu hari, Rasulullah saw. ditanya tentang iman. Beliau menjawab iman adalah sabar. Sebab, kesabaran merupakan pelaksanaan keimanan yang paling banyak dan paling penting. "Dan orang yang sabar dalam musibah, penderitaan, dan dalam peperangan, mereka itulah orang yang benar imannya, serta mereka itulah orang-orang yang bertaqwa." (Q.S. Al-Baqarah: 177).

Oleh karena itu, kita dapat memahami mengapa Alquran menjadikan masalah sabar sebagai kebahagiaan di akhirat, tiket masuk ke surga, dan sarana mendapatkan sambutan para malaikat. Sabar adalah kekhasan manusia, sesuatu yang tidak terdapat di dalam binatang sebagai faktor kekurangannya, dan di dalam malaikat sebagai faktor kesempurnaannya.

Binatang telah dikuasai penuh oleh syahwat. Oleh karena itu, satu-satunya pembangkit gerak dan diamnya hanyalah syahwat. Juga tidak memiliki "kekuatan" untuk melawan syahwat dan menolak tuntutannya, sehingga kekuatan menolak tersebut bisa disebut sabar. Sebaliknya, malaikat dibersihkan dari syahwat, sehingga selalu cenderung kepada kesucian Illahi dan mendekat kepada-Nya. Oleh karena itu, tidak memerlukan "kekuatan" yang berfungsi melawan setiap kecenderungan kepada arah yang tidak sesuai dengan kesucian tersebut.

Akan tetapi, manusia adalah makhluk yang dicipta dalam proses perkembangan merupakan makhluk yang berakal, mukallaf (dibebani) dan diberi cobaan, maka sabar adalah "kekuatan" yang diperlukan untuk melawan "kekuatan" yang lainnya. Akibatnya, terjadilah "pertempuran" antara yang baik dengan yang buruk. Yang baik dapat juga disebut dorongan keagamaan dan yang buruk disebut dorongan syahwat.

Agama tidak akan tegak dan dunia tidak akan bangkit, kecuali dengan sabar. Sabar adalah kebutuhan duniawi keagamaan. Tidak akan tercapai kemenangan di dunia dan kebahagaiaan di akhirat, kecuali dengan sabar.

Kedudukan seseorang ditentukan oleh kualitas kesabarannya. Pemimpin yang tidak sabar, pasti tidak akan berhasil memimpin dan akan jatuh akibat ketidaksabarannya. Oleh karena itu, orang yang tidak pernah sungguh-sungguh melatih kesabaran dalam kehidupan ini, maka akan menderita. Sebab, kesabaran membuat daya tahan yang luar biasa dan benar-benar memperindah pribadi seseorang.

Quraish Shihab dalam "Menyingkap Tabir Ilahi", menyebut kata "Asshabur" (Allah Maha Penyabar) berasal dari akar kata yang terdiri atas tiga huruf, shad, ba, dan ra. Makna dari kata ini, " menahan", "ketinggian sesuatu", dan "sejenis batu". Dari makna menahan, lahirlah makna konsisten/istikamah. Sebab, sikap menahan pandangannya terhadap suatu gejolak dinamai sabar.

Seseorang yang ditahan di penjara dan dia sabar sampai mati disebut mashburah. Dari makna kedua, lahir kata "shubr", yang berarti puncak sesuatu. Jadi, orang yang memiliki kesabaran yang tinggi, maka dia akan memiliki puncak kemuliaan. Dan dari makna yang ketiga, muncul kata "ash subrah" yakni "batu yang amat kukuh lagi kasar" atau bisa juga disebut dengan "potongan besi".

Apabila makna itu saling mengait, orang yang punya kemampuan sangat menahan diri, gigih, tangguh, maka dia akan punya tingkat kemuliaan, ketinggian kehormatan selaku manusia, dan dia akan memiliki ketahanan yang amat dahsyat.

Kesabaran amatlah berbanding lurus dengan tingkat keyakinan kepada Allah, yaitu orang-orang yang apabla ditimpa musibah mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`un." Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka. Mereka itulah orang yang mendapat petunjuk (Q.S. Al-Baqarah: 156-157).

Ketidaksabaran timbul, ketika kita melihat makhluk terlalu hebat dan melihat makhluk sebagai sumber. Padahal, makhluk cuma jalan (perantara). Kalau fokus kita kepada makhluk, maka kualitas kesabaran kita bakal berkurang. Orang yang targetnya akhirat, maka kesabarannya akan meningkat. Sabar itu berat awalnya, tetapi manis akhirnya. Latihan sabar adalah kesungguhan. Latihan sabar adalah latihan kemuliaan. Sebab, tiada pahala yang terputus, kecuali pahala orang yang ahli sabar.***